Wayang Suwung

Prabu Batara dan Dewi Sunandadewi akhirnya melahirkan seorang putra dan diberi nama Pangeran Bumanyu. Namun kegembiraan Kerajaan Astina tidak berlangsung lama. Tepat setahun setelah Pangeran Bumanyu lahir, Prabu Barata meninggal dunia. Prabu Bumanyu nantinya menurunkan Prabu Sambarana setelah 6 generasi.

Tahta Kerajaan Astina dalam keadaan kosong. Pangeran Baradwa tidak ingin menjadi Raja dan karena Putra Mahkota Pangeran Bumanyu masih berusia satu tahun. Pangeran Baradwa akhirnya mau meninggalkan pertapaannya dan menetap di Keraton Astina untuk membimbing dan mengajari Pangeran Bumanyu. Hingga sang Pangeran cukup usia dan cukup ilmu untuk meneruskan Tahta Kerajaan Astina.

..::Kisah Prabu Barata Sang Penakluk: Leluhur Wangsa Barata::..

Prabu Bumanyu memimpin Kerajaan Astina meneruskan Ayahnya, Prabu Barata, dengan baik. Negara Kerajaan Astina yang beribu kota di Keraton Astinapura tumbuh menjadi Kerajaan besar.

Setelah menurunkan 6 generasi keturunan Prabu Bumanyu, terlahirlah Seorang Putra Mahkota bernama Prabu Sambarana putra Prabu Reksa II putra Prabu Ajameda putra Prabu Wikuntana, putra Prabu Hasti, putra Prabu Sawarna, putra Prabu Suhotra, putra Prabu Bumanyu, putra Prabu Barata.

Dalang Suwung akan menceritakan Cerita Wayang Prabu Sambarana. Simak baek-baek ya.

Kisah Prabu Sambarana

Alkisah, disaat Prabu Sembara berkuasa di Kerajaan Astina, Kerajaan Astina mengalami masa-masa paceklik. Kerajaan Astina dilanda kekeringan yang panjang, banyak rakyat mati karena kelaparan dan wabah penyakit.

Melihat Kerajaan Astina sedang lemah, kerajaan tetangga yang bernama Kerajaan Pancala, merencanakan penyerangan terhadap Kerajaan Astina. Sesungguhnya, Kerajaan Pancala dan Kerajaan Astina adalah memiliki hubungan kekerabatan. Leluhur mereka adalah Prabu Yayati.

Prabu Yayati memiliki 5 orang putra:

  • Pangeran Yadu,
  • Pangeran Turwasu,
  • Pangeran Druhyu,
  • Pangeran Anu,
  • Pangeran Puru.

Ceritanya bisa disimak di sini  ..::Kisah Prabu Yayati dan Keturunannya::..

Pangeran Puru menurunkan Wangsa Puru yang nantinya menurunkan Wangsa Barata, Wangsa Kurawa hingga sampai pada Prabu Parikesit putra Pangeran Abimanyu putra Pangeran Arjuna putra Prabu Pandu Dewanata.

Sedangkan Pangeran Yadu menurunkan Wangsa Yadawa yang merupakan Bangsa pengembala yang kemudian mendirikan kerajaan Dwaraka. Keturunan Wangsa Yadawa yang terkenal adalah Prabu Baladewa dan adiknya yang bernama Prabu Krisna.

Kerajaan Pancala mengerahkan pasukan menggempur Keraton Astinapura dengan kekuatan penuh sehingga berhasil menembus Benteng pertahanan Keraton Astinapura.

Disaat krisis, Prabu Sambarana dan anggota kerajaan Astina yang tersisa dilarikan oleh para penjabat keraton yang setia. Mereka menempati sebuah hutan yang masih di dalam kekasaan Kerajaan Astina. Di hutan itu Prabu Sambarana mendirikan benteng dan menetap serta berkoloni dalam waktu yang lama.

Setelah Prabu Sambarana beserta koloninya hidup di dalam hutan selama seratus tahun. Pada suatu hari, datanglah Resi Wasista. Beliau adalah Resi besar yang menjadi Guru para Dinasti Surya. Termasuk juga Guru Pangeran Ramawijaya, Pangeran Barata, Pangeran Laksmana dan Pangeran Satrugna. Yang merupakan putra-putra dari Prabu Dasarata Raja besar dari Kerajaan Kosala yang beribu kota di Keraton Ayodya dari Kisah Ramayana.

Resi Wasista menceritakan kepada Prabu Sambarana, bahwa bila beliau didatangi Batara Narada. Batara Narada mengatakan, bahwa suatu saat nanti Prabu Sambarana akan diberikan jodoh oleh Batara Surya. Sang Prabu akan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Dewi Tapati.

Dari perkawinan itu, kelak akan menurunkan seorang putra yang akan merebut kembali kerajaan Astina dari kekuasan Kerajaan Pancala.

Prabu Sambarana Melamar Dewi Tapati

Singkat cerita, Prabu Sambarana menghadap Batara Surya di Kahyangan diantar oleh Resi Wasista melamar Dewi Tapati. Awalnya Batara Surya menolak lamaran sang Prabu. Karena Prabu Sambarana merupakan keturunan Batara Candra pendiri Dinasti Candra. Sedangkan Dewi Tapati adalah putri Batara Surya sang pendiri Dinasti Surya.

Batara Narada sang Maha Patih Kahyangan tangan kanan Batara Guru mendengar penolakan Batara Surya. Lalu beliau menggunakan video call utuk menghubungi Batara Surya.

Brekencong WaruDoyong lud-olud hok..Hallo Yo..Suryo” terdengar suara Batara Narada dengan video wajahnya, “koq You nolak lamaran dari Sambara tho Yo? Sambara itu Raja besar lho Yo.”

“Begini Paman Narada,” jawab Batara Surya lewat layar smart phonenya. “Sambara itukan keturunan dari Dinasti Candra bentukan adik Candra. Nah putri saya yang cantik bahenol itu dari Dinasti Surya bentukan saya. Apa ndak nanti akan capur bawur dinasti kami berdua ini tho Paman?”

Batara Surya memanggil Batara Narada dengan sebutan Paman karena Ayah Batara Surya, Batara Ismaya atau lebih dikenal dengan nama Semar. Beliau adalah sepupu dari Batara Narada.

Brekencong WaruDoyong lud-olud hok..lho bukannya lebih baek tho Yo.” Kata Barata Narada.

“You punya keturunan bisa berkompilasi dengan keturunan Candra, kan jadi hebat tho? Dan perjodohan ini udah ditentukan oleh Gusti Pangeran Maha Agung yang disampaikan ke aku lewat perantara Malaikat Jibril. Bila You punya keturunan akan menyatu dengan keturunan You punya adik si Candra. Itu udah jadi kodrat Yo.”

Mendengar penjelasan dari Batara Narada, kemudian Batara Surya merestui pernikahan Prabu Sambarana dengan Dewi Tapati.

Prabu Sambarana dengan Dewi Tapati memiliki Putra yang diberi nama Pangeran Kuru yang nantinya akan mendirikan Wangsa Kurawa.

..::Kisahnya Belum Ada Di Sini::..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *