Wayang Suwung

Kisah Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya

Kisah Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya  dimulai dari cerita sebelumnya, tentang Prabu Aji Soko dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Medang Kamulan. Beliau kehilangan dua Abdi setianya karena kesalahan dari Sang Prabu sendiri. Untuk mengenang jasa dan kesetiaan kepada kedua Abdi setia itu, Prabu Aji Soko menciptakan sebait puisi yang dijadikan Aksara Jawa.

Kisahnya ada di Cerita Wayang pada Artikel:

..::Kisah Legenda Prabu Aji Soko Menciptakan Aksara Jawa::..

Mari kita simak cerita Kisah Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya dari Dalang Suwung…

Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya : Awal kisah.

Kisah Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya. Prabu Aji Soko memerintah Kerajaan Medang Kamulan dengan adil dan bijaksana. Beliau suka berkelana sendirian tanpa pengawalan prajurit kerajaan ke pelosok desa. Beliau melakukan blusukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi Rakyatnya yang kekurangan, kelaparan dan tidak berpendidikan.

Kutukan Ular sakti kepada Prabu Aji Soko.

Pada suatu hari, Prabu Aji Soko sedang blusukan ke desa-desa terpencil. Beliau melihat ada sebuah akar pohon yang lumanyan besar melintang menghalangi laju Motor Prabu Aji Soko. Sang Prabu menebas akar pohon itu agar dapat melanjutkan perjalannya. Namun tanpa diduga, akar pohon itu mengeluarkan darah. Ternyata akar pohon itu adalah seekor ular sakti yang sedang bertapa.

Merasa tapanya terganggu, Ular sakti itu mengutuk Prabu Aji Soko. Dalam kutukannya Prabu Aji Soko akan memiliki seorang putra yang berwujud ular. Dan anak itu akan mati di tangan sang Prabu sendiri.  Setelah memberi kutukan kepada Prabu Aji Soko, ular sakti itu tiba-tiba menghilang secara gaib. Kutukan itu mengawali Kisah Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya.

Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya : Sang Prabu Kesengsem Para Kembang Desa.

Prabu Aji Soko lalu melanjutkan perjalanannya. Saat beliau sampai pada dusun Dadapan yang terletak di desa sangkeh. Beliau bertamu di sebuah rumah kecil yang di huni oleh seorang janda tua. Janda tua itu bernama Nyi Khasiyan. Sang Prabu memutuskan menginap di rumah kecil itu untuk menghindari fitnah.

Setiap pagi, remaja putri dusun Dadapan selalu melakukan kegiatan menumbuk padi. Kegiatan tersebut dilakukan di depan lumbung desa yang persis berada di depan rumah Nyi Khasinyan. Para remaja Putri itu melakukannya secara gotong royong. Kegiatan ini sudah dilakukan secara turun menurun untuk dipergunakan sebagai bahan makanan untuk seluruh penduduk dusun.

Para Kembang Desa Menumbuk Padi.

Para remaja putri sedang menumbuk padi saat Prabu Aji Soko bangun tidur dan keluar dari rumah Nyi Khasiyan. Beliau kemudian duduk di teras dan memperhatikan para remaja putri sedang menumbuk padi. Mengetahui kegiatannya diperhatikan oleh Raja muda yang masih Jomblo, maka para remaja putri itu menjadi semakin caper.

Gerakan menumbuk padi yang hari-hari biasanya mereka lakukan dengan santai, pagi ini mereka lakukan dengan sedikit agak lebay. Ada yang menumbuk padinya sambil menggoyangkan bokongnya berputar-putar seperti gansing. Ada yang menonjolakan dadanya dan membuka sedikit kancing atas dadanya agar lembah di dadanya terlihat dalam. Ada pula yang menumbuk padinya dengan menggetarkan seluruh badannya. Sehingga dada dan bokong Remaja Putri itu naik turun seperti bola basket yang sedang didrible.

Ke’lebay’an para remaja putri dusun Dadapan itu karena mereka ingin mecari perhatian Sang Prabu yang masih jomblo. Siapa tahu, bila nasib sedang mujur, salah seorang dari mereka dapat dipersunting oleh Sang Pangeran.

Dusun Dadapan memang terkenal akan kecantikan para remaja putrinya. Banyak remaja putri dari dusun Dadapan dipersunting oleh para pejabat Keraton. Atau paling na’as, menjadi simpanan para pengusaha kaya.

Melihat tingkah polah para remaja putri dusun Dadapan yang sedang menumbuk padi itu, nafsu syahwat Prabu Aji Soko bangkit. Darah muda Sang Prabu seperti mendidih menahan gejolak libidonya yang melonjak-lonjak seperti pemulung menemukan tumpukan kardus bekas. Akhirnya sang Prabu tidak kuat menahan nafsu birahinya sehingga tanpa sengaja sperma sang Prabu menetes ke tanah. Sperma Sang Prabu berubah menjadi mutiara sebesar butiran biji papaya. Kemudian dipatuk oleh ayam jantan milik Nyi Khasiyan.

Menetesnya sperma Prabu Aji Soko tersebut ternyata diketahui oleh para remaja putri yang sedang menumbuk padi. Karena malu, Prabu Aji Soko seketika masuk kedalam rumah Nyi Khasiyan lalu melarikan diri lewat pintu belakang. Beliau memacu motornya pulang menuju Keraton Medang Kamulan.

Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya : Lahirnya Ular Putih putra Prabu Aji Soko

Beberapa harinya setelah kejadian itu, ayam jantan milik Nyai Khasiyan bertelur. Telur putih bersih yang memancarkan cahaya tipis. Telur itu kemudian dipungut oleh Nyai Khasiyan dan diletakkan di tempat penyimpanan beras. Secara ajaib, beras yang beradadi dalam tempat penyimpanannya tidak pernah habis walau setiap hari diambil untuk ditanak.

Nyai Khasiyan kemudian menggunakan kesempatan itu, jiwa bisnis beliau mendadak muncul. Nyai Khasiyan mengemas beras itu dengan karung dan melebelinya dengan nama ‘Beras Aji Soko, beras kualitas no 1’.

Dengan bisnis barunya itu, Nyai Khasiyan menjadi kaya raya.

Lahirnya Ular Putih Legenda Prabu Aji Soko dan Putranya.

Waktu telah berjalan sekitar satu tahun, pada pagi hari, Nyai Khasiyan menemukan seekor ular putih di tempat penyimpanan beras beliau. Nyai Khasiyan menjerit ketakutan dan mencari parang berniat untuk membunuh ular putih tersebut.

Namun belum sempat Nyai Khasiyan menebaskan parang ke tubuh ular putih itu, tiba-tiba sang ular berbicara.

“Duh Nyai Khasiyan. Jangan kau bunuh aku!” kata ular putih itu. Nyai Khasiyan terpaku dan mengurungkan niatnya untuk membunuhnya.

“Sesungguhnya, aku adalah putra Prabu Aji Soko. Aku berasal dari sperma Beliau yang jatuh dan dipatuk oleh ayam jantan milik Nyai. Mbok ya o, Nyai sudi mengantarkanku ke Kerajaan Prabu Aji Soko agar aku dapat diakui oleh Sang Prabu sebagai anak.”

Nyai Khasiyan menjadi bimbang atas permintaan sang Ular Putih itu. Di satu sisi, beliau merasa kasihan kepada ular putih yang mencari pengakuan dari ayahnya. Di satu sisi lainnya, bila Nyai Khasiyan mengantarkan Ular Putih tersebut, maka tempat penyimpanan berasnya akan berhenti berproduksi.

“Duh Nyai Khasiyan. Nyai jangan bimbang, jangan takut bisnis Nyai akan berhenti. Cangkang telur bekas aku dilahirkan, akan menjadi pusaka ajaib. Gunakanlah cangkang telur itu untuk menyirami tanah yang ada di dusun Dadapan ini. Niscaya dengan ijin Gusti Pangeran Maha Agung, tanah di dusun ini akan menjadi tanah yang subur. Dengan menjadi subur, maka akan dapat meningkatkan kesejahteraan dusun Dadapan ini. Jadi para pria warga di dusun ini tidak perlu lagi menjadi TKI illegal. Atau para wanitanya tidak perlu lagi menjadi simpanan penjabat atau pengusaha kaya.”

Ular Putih Menggugat.

Mendengar penuturan Ular Putih itu, Nyai Khasiyan akhirnya menyetujuinya. Nyai Khasiyan kemudian menyuruh seorang pegawainya untuk mengantarkan sang Ular menemui Prabu Aji Soko. Nyai Khasiyan memilih untuk mensejahterakan Warga dusunnya dari pada mencari kekayaan untuk diri sendiri.

“Okelah kalo beg..beg..begitu. Akan aku antar kamu ke Kerajaan Medang Kamulan menemui Prabu Aji Soko. Tapi aku sudah tua dan ndak sanggup melakukan perjalanan jauh. Aku suruh Wardoyo pegawaiku untuk mengantarkan kamu.” Kata Nyai Khasiyan.

“oh iya, aku akan memberimu nama ‘Joko Linglung’. Karena kamu sedang bingung akan setatus siapa Bapakmu.”

Kisah selanjutnya menceritakan Joko Linglung bertemu dengan Prabu Aji Soko yang mau mengakuinya sebagai putranya bila dapat melaksanakan sebuah syarat.

..::Kisah Legenda Joko Linglung: Putra Prabu Aji Soko::..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *